Akan tetapi, dengan kondisi perekonomian mereka yang morat-marit di hari tua, tentu hal itu menjadi mustahil rasanya. Oleh sebab itu, gotong-royong yang jauh dari banyak berbau seremoni dan dikelola dengan baik, akan dapat ditanggulangi dengan baik secara produktif. Katakanlah, semacam koperasi yang tidak lahir secara top down. Dengan demikian, semua energi terwadahi lantaran ikut berperan.
Salah satu hal positif dari teknologi maju komunikasi dewasa ini, dapat dimanfaatkan oleh WS untuk itu, yakni dapat menembus informasi yang sebelumnya hanya bisa diakses lewat bacaan. Meski, tentu saja antara teknologi cepat saji dan konvensional masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, meski banyak bangsa dan negara maju yang sudah sangat membatasi pemanfaat kemajuan teknologi informasi.
Baca Juga: Habis Gelap Terbitlah Terang: Spirit Hijrah Menuju Perubahan
Terutama karena faktor lupa diri si pemanfaat. (Catatan untuk kemajuan teknologi tinggi di bidang komunikasi tentang hal negatifnya bejibun bila hanya berkembang didasarkan atas “cepat, murah, dan mudah” yang amat memengaruhi kejiwaan si pemanfaat. Sekali lagi, justru ini menjadi lahan kritisasi wartawan yang butuh intelektual WS. Hal yang satu ini tidak dibahas lanjut di sini). Banyak contoh bisa diajukan. Grup bekas anak usaha sebuah koran terkemuka di Jakarta saja, beranggotakan hampir 50 orang. Semua sudah senior.
Itu belum bila didata secara saksama mereka yang bertebaran di Tanah Air. Kalau penduduk Indonesia sudah mencapai 279 juta jiwa lebih, termasuk yang hampir miskin dan terancam miskin, di antaranya pasti WS. Jumlah sebanyak ini menjadi perhatian dan harus ditanggulangi dengan baik oleh SWSI, agar tak mengulang cerita lama, seperti diungkapkan Wahyu tadi tentang warganya yang harus ditanggulangi oleh person-person saja.
