“Nah selama ini eucalyptus yang kita kenalkan biasanya berasal dari minyak kayu putih. Sehingga secara empiris digunakan untuk mengobati berbagai macam gangguan pernafasan. Maka ini sesuai dengan gejala COVID-19, bahwa gejalanya itu gangguan saluran pernafasan. Sehingga Kementan mengklaim itu gejala (sindrom) bisa dikurangi dengan penggunaan eucalyptus,” ujar lulusan Doktor Austria ini.

Baca juga: PPP Kritisi Rencana Kementan Produksi Massal Kalung Anti Corona

Menurut Adriyan, klaim yang dilakukan oleh Kementan Sebelumnya bisa dikatakan terlalu dini, walaupun hal tersebut menurutnya patut mendapatkan apresiasi. Karena ini bagian usaha untuk menemukan obat virus corona.

Bahwa dosis obat yang diminum (oral) beda dengan obat yang dihirup. Sehingga perlu ada penelitian lebih lanjut.

“Sebab yang dilakukan oleh Kementan baru pengujian In Vitro dengan menggunakan sel dan metode In Silico dengan menggunakan software. Nah yang belum dicoba adalah langsung ke hewan uji (In Vivo), sehingga perlu ada penelitan langsung untuk menentukan dosis. Sebab jika dosis tidak pas ya enggak cukup maka tidak ada efek, terlebih jika ada dosis berlebih akan menghasilkan toksin (racun),” ungkapnya.