Antara Lisan dan Batin
Sering kali kita sibuk melafalkan niat, tetapi lupa menghadirkannya dalam hati. Padahal inti niat adalah kehendak batin, bukan formalitas verbal. Niat yang tulus melahirkan konsistensi. Ia tidak bergantung pada suasana. Ia tidak menunggu pujian. Ia tetap hidup meski tidak dilihat siapa pun.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kesadaran menjadi barang langka. Kita terbiasa multitasking, bahkan dalam ibadah. Tubuh di sajadah, pikiran di tempat lain. Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali dimensi niat sebagai pusat kesadaran spiritual.
Baca Juga: Membaca Isra Miraj di Era Digital
Ibadah sebagai Proses Autentik
