Notifikasi menciptakan ilusi urgensi. Segala sesuatu terasa penting, harus segera direspons, harus segera diketahui. Namun dalam arus itu, manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang mendesak dan yang esensial. Ia sibuk menjawab dunia, tetapi lupa menjawab pertanyaan paling mendasar: siapa aku, dan ke mana aku menuju?

Baca Juga:  Urgensi Menegakkan Supremasi Sipil

Di sinilah krisis itu bermula "krisis makna". Bukan karena dunia kekurangan tujuan, tetapi karena manusia kehilangan orientasi. Ia terlalu fokus pada apa yang tampak, hingga melupakan apa yang hakiki. Ia mengejar pengakuan yang cepat datang dan cepat pergi, tetapi mengabaikan nilai-nilai yang diam namun abadi.

Ironisnya, semakin sering manusia “terlihat” di dunia digital, semakin ia berisiko “menghilang” secara eksistensial. Ia hadir dalam layar, tetapi absen dalam kesadaran. Ia aktif secara sosial, tetapi pasif secara spiritual. Ia terus bergerak, tetapi tidak selalu menuju.

Padahal, hidup bukan sekadar rangkaian respons terhadap stimulus luar. Ia adalah perjalanan menuju makna yang lebih dalam menuju sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, tidak bisa divalidasi dengan “likes”, dan tidak bisa dipercepat oleh algoritma. Dalam bahasa spiritual, itulah yang disebut "keabadian".