Keabadian bukan hanya tentang akhirat sebagai tujuan teologis, tetapi juga tentang kesadaran bahwa hidup memiliki dimensi yang melampaui yang sementara. Bahwa tidak semua yang kita lakukan hari ini akan bertahan, tetapi ada sesuatu yang akan tetap tinggal: nilai, amal, dan jejak makna.
Baca Juga: Menjahit Ukhuwah di Kain Perbedaan
Maka problem utama manusia modern bukanlah teknologi, tetapi "ketidaksiapan batin dalam menghadapinya". Kita menggunakan perangkat yang canggih, tetapi dengan kesadaran yang rapuh. Kita menguasai dunia luar, tetapi belum tentu mengenal dunia dalam.
Tulisan ini bukan ajakan untuk menjauhi teknologi, melainkan untuk "menjinakkannya". Agar notifikasi tidak menguasai perhatian kita, dan dunia digital tidak mengaburkan arah hidup kita. Kita tetap bisa hadir di dunia modern, tanpa kehilangan akar spiritual kita.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita merespons dunia, tetapi seberapa dalam kita memahami makna keberadaan kita. Di antara ribuan notifikasi yang memanggil setiap hari, ada satu panggilan yang sering terlewat: panggilan untuk kembali pada diri sendiri dan pada Yang Maha Abadi. Dan mungkin, krisis makna manusia modern bukan karena terlalu banyak suara, tetapi karena terlalu lama "mengabaikan yang paling sunyi". (*)
