Baca Juga: Cerita Horor Ninja Bantai 250 Dukun Santet, Korban Guru Agama hingga Muncul Tanda Silang

Setibanya di wilayah kolonial tersebut, Margaretha menikah dengan Rudolf pada 1895 di Malang, Jawa Timur. Dari pernikahan itu, ia memiliki dua anak.

Namun kehidupan rumah tangga tidak berjalan baik karena adanya konflik internal, termasuk dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan perilaku suaminya yang tidak stabil.

Setelah perpisahan, Margaretha mulai hidup mandiri. Ia kemudian mempelajari seni tari dan budaya Jawa, termasuk teknik gerak tari tradisional serta penggunaan busana kebaya. Pengalaman ini menjadi dasar keterampilan yang kelak ia tampilkan di panggung Eropa. Sejak 1897, ia mulai menggunakan nama panggung Mata Hari.

Pada awal 1900-an, Mata Hari pindah ke Paris dan mulai menampilkan pertunjukan tari bergaya eksotis. Dalam sejumlah catatan sejarah, ia mengembangkan gaya pertunjukan yang berbeda dari tari Jawa yang dipelajarinya di Indonesia. Pertunjukan tersebut menarik perhatian kalangan elite Eropa dan membuatnya memperoleh bayaran tinggi.