“Saat berhubungan seks, gesekan fisik dan sentuhan serviks oleh penis berpotensi memengaruhi lendir serviks dan merangsang pelepasan zat perangsang persalinan pada orang dengan riwayat persalinan dini atau serviks yang lemah,” kata Shepherd.

Seks juga melibatkan dua hormon yang penting untuk persalinan, yakni prostaglandin dan oksitosin. Cairan semen pria mengandung konsentrasi prostaglandin tertinggi.

Jika Anda melakukan seks tanpa kondom, hormon prostaglandin tersebut bisa menyentuh serviks. Pada akhirnya, serviks menjadi lemas dan membuka, sehingga memicu timbulnya kontraksi.

"Sementara itu, orgasme memicu lonjakan pelepasan oksitosin, yang merupakan kunci produksi kontraksi persalinan," tambah Dr. Gersh.

Penelitian juga menemukan bahwa tubuh melepaskan oksitosin saat orgasme. Hormon tersebut mirip dengan pitocin, obat yang digunakan penyedia layanan kesehatan untuk memulai atau mempercepat persalinan karena menyebabkan kontraksi rahim. Jika seorang mengalami kontraksi pasca-klimaks, hal itu bisa menyebabkan tubuh seolah berpikir sudah waktunya kontraksi persalinan.