Pada saat kematiannya, orang yang berutang tidak mendapat rida Allah SWT. Hal itu tercermin dalam sikap Rasulullah SAW ketika datang jenazahnya kepadanya untuk disalatkan. Beliau menolak mensalatkannya. Beliau bertanya, “Apakah sahabat kalian ini memiliki utang?” Mereka menjawab, “Iya.” Beliau bertanya lagi, “Apakah ia meninggalkan sesuatu untuk melunasinya?” Dijawab oleh mereka, “Tidak.”
Baca Juga: Baca Doa Ini untuk Hilangkan Rasa Sedih dan Sakit Hati
Beliau mengatakan, “Salatkan saja sahabat kalian itu oleh kalian!” Untungnya, ‘Ali bin Abi Thalib menyela, “Biarlah kewajibanku melunasi utangnya.” Mendengar demikian, beliau berkenan maju dan mensalati jenazah orang tersebut. (HR. al-Bukhari).
Setelah berada dalam kubur, orang yang berutang juga mengalami penyesalan yang luar biasa, sampai-sampai tangannya terbelenggu di tengkuknya, sebagaimana hadis Rasulullah SAW:
"Orang yang memiliki utang, di alam kuburnya, tangannya terbelenggu. Tidak ada yang dapat melepaskannya hingga utangnya dilunasi.” Belum lagi di akhirat kelak, orang berutang juga kebaikannya diambil oleh orang yang mengutanginya, sebagaimana hadis Rasulullah SAW:
