Baca Juga: Tiga Negara Penyuplai Senjata Hizbullah untuk Gempur Israel
Fakta ini terungkap setelah Durov mengakui bahwa 15 tahun yang lalu, ia menyumbangkan spermanya di sebuah klinik fertilitas untuk membantu teman dekatnya yang mengalami masalah kesuburan.
Pengakuan ini menjadi berita hangat di dunia teknologi dan menambah panjang daftar kontroversi yang menyelimuti sosok pria berusia 39 tahun ini.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Tech Crunch, Durov mengungkapkan bahwa pada tahun 2009, seorang teman mendekatinya dengan permintaan yang tidak biasa.
Teman tersebut meminta Durov untuk menyumbangkan sperma agar ia dan istrinya yang mengalami kesulitan memiliki anak bisa mewujudkan impian mereka menjadi orangtua.
