"Terus kalau ada uang ta, bawaki juga. Jangan cuma bermodalkan mi (mie instan) ji saja. Apa manfaatnya kepada masyarakat kalau hal buruk saja yang dituliskan. Kalau ada sumbangan, hilangmi. Mana juga uangmu?" lanjutnya.

"Saya blak-blakan saja, saya tidak simpan-simpan. Saya jengkel kalau informasinya sudah sampai Jakarta (pemerintah pusat). Hanya mencari panggung di atas penderitaan orang lain, tidak boleh begitu," pungkasnya.

Baca Juga: Pemeriksaan 3 Polisi Tersangka Rusuh Kanjuruhan Ditunda

Sementara itu, Siswanto Rawali, akedemisi dari Universitas Lambung Mangkurat, memaknai pernyataan bupati tersebut sebagai keinginan supaya semua elemen menyatukan potensi untuk mengantisipasi dan menangani bencana di Enrekang, termasuk elemen pers.

"Hanya saja cara penyampaiannya yang kurang pas. Seharusnya, bupati memahami tugas wartawan memang memberitakan peristiwa dan seharusnya pemerintah daerah bersyukur dengan adanya wartawan yang banyak memberitakan daerah kita," tutup Siswanto. (B)