Perusahaan ini bermarkas di San Francisco, California, dan memiliki kantor di London, Singapura, Champaign, Austin, Boston, serta Washington, D.C.
Fungsi utama Cloudflare termasuk memonitor traffic berbahaya, meningkatkan kinerja website, mengurangi penggunaan sumber daya server, serta menyediakan cache content statis untuk website. Layanan ini juga mampu menyembunyikan alamat IP hosting, memberikan perlindungan terhadap serangan DDoS, serta memblokir akses dari negara tertentu demi keamanan data.
Baca Juga: Ramai ChatGPT Diblokir dari Indonesia, Begini Penjelasannya
Meski memiliki banyak kelebihan, Cloudflare tetap memiliki beberapa kekurangan. Saat terjadi kendala atau error, seperti yang dialami Selasa malam, website pengguna bisa tidak dapat diakses meski server hosting normal.
Mode “I’m under attack” juga dapat menyebabkan pengeblokan sementara terhadap beberapa traffic, termasuk crawl robots dari search engine, yang mempengaruhi pengindeksan situs.
