Baca juga: Pemkot Instruksikan tidak ke Luar Rumah 10-12 April

Bila kondisi ini dianggap sebagai medan pertempuran menghadapi bencana, dokter dan petugas kesehatan adalah prajurit yang berada di garis depan.

Ada hal yang paling miris dari wabah ini adalah bukan karena hilangnya manusia akan tetapi hilangnya kemanusiaan di tengah wabah ini. Yang jelas mereka yang telah berbau virus ini terstigma aib dan akan dijauhi oleh sekelilingnya. Sebut saja di salah satu kota besar bagian tengah di Indonesia, beberapa insiden penolakan jasad diduga COVID-19 ditolak mentah-mentah oleh warga sekitar. Ketakutan karena minimnya pengetahuan tentang penyebaran virus ini akhirnya menjadi perilaku yang melengkapi pilu keluarga yang ditinggalkan. Karena virus ini, keluarga terdekat pun harus terpaksa menjauh, virus mengisolasi dari orang-orang yang terkasih hingga dikubur tanpa pelayat.

Akibat badai virus ini mendera hampir seluruh aspek bangsa ini, kesehatan, perekonomian, sosial bahkan juga hukum, menjadi masalah yang bersahutan menghampiri bangsa ini. Bayangkan saja, karyawan biasa, pedagang kecil, dan masyarakat yang kerja serabutan sangat rentan dengan kemiskinan. Bagaimana jika satu hari saja mereka tidak bekerja, maka apa yang dapat mereka makan.

Baca juga: Tangis Petugas Medis RS Bahteramas Cari Tumpangan Tempat Tinggal