Baca juga: Kembalinya Pendidikan Keluarga di Tengah Pandemi COVID-19

Juga, publik disuguhi pembahasan yang fokus kepada penanganan penyebaran virus dan penyakitnya, tenaga kesehatan, fasilitas, upaya pengadaan alat-alat kesehatan dan obat-obatan yang minim di berbagai tempat, hingga penentuan pemilihan kebijakan penanganan terbaik dari pemerintah pusat hingga daerah.

Namun ada hal yang sunyi-senyap dari banyak kajian meskipun sangat penting untuk diperhatikan terkait dampak COVID-19 ini, yaitu ‘isi perut’. Gara-gara ‘isi perut’ sempat terjadi sedikit ‘guncangan’ karena adanya kekhawatiran penerapan lockdown pada awalnya menyebabkan melonjaknya permintaan kebutuhan pokok terutama beras, naiknya harga-harga secara tak terkendali sebab kelangkaan, atau adanya kemungkinan permainan pelaku pasar demi keuntungan tapi merugikan orang banyak.

Padahal kebutuhan akan pangan adalah kebutuhan mendasar, yang dapat memicu kekacauan dan tindakan kriminal dalam skala luas. Saking pentingnya pangan, FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) mengingatkan akan ancaman krisis pangan akibat virus Corona. Hal yang sama juga diingatkan Presiden Jokowi.

Menariknya, kondisi ini membuat seakan-akan terjadi ‘kebingungan’ untuk menentukan prioritas antara menjaga stabilitas ekonomi termasuk ketersediaan pangan, atau menjaga warga negara agar tidak menjadi korban serangan wabah virus Corona yang cepat. Di antara keduanya seperti terlihat ada dikotomi (pembedaan).