Kecemasan merupakan respon subjektif individu terhadap situasi, ancaman, atau stimulus eksternal. Atkinson dan hilgrad mendefinisikan kecemasan sebagai suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang di tandai oleh perasaan takut, tidak percaya diri, khawatir, dan bingung.

Dilansir dari jurnal medis The Lencet mencatat dampak yang terjadi dari terpaan berita COVID-19 bisa sangat besar, mulai dari pemberitaan isolasi, karantina, dan beberapa update kasus hingga meninggalnya korban jiwa. Para ahli mengatakan bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental mulai dari kecemasan dan kemarahan hingga gangguan tidur bahkan depresi dan post traumatic stress syndrome (PTSD).

Baca juga: Nasib Pemudik

Sebuah hasil studi terpisah dilakukan pada pasien Karantina sars pada 2003 menunjukkan bahwa seseorang yang diisolasi  atau di karantina menyebabkan 10%-29% Warga menderita PTSD. Profesor Ian Hickie di Universitas of Sydney’s Brain and Mind Centre, mengatakan manusia merupakan makhluk sosial, pemberitaan karantina atau isolasi sosial yang dilakukan dalam jangka waktu lama berkepanjangan (tanpa metode konpensasi) akan memperburuk Kecemasan, depresi dan rasa tidak berdaya.

Pada saat ini Kita telah mencermati perilaku-perilaku mencolok dari terpaan informasi karena kurangnya literasi media bagi masyarakat seperti: kekhawatiran berlebihan, rasa was-was, rasa curiga, serta kecemasan adalah bukti, pemrosesan informasi telah mencapai efek sekunder beberapa contoh tentang hal ini dapat dilihat dari tindakan panic buying, social distancing, bahkan proteksi diri yang sangat berlebihan dilakukan oleh beberapa kalangan masyarakat, dapat dilihat dari pesan berantai yang disebarkan melalui aplikasi WhatsApp.