"Melihat mereka pakai toga, itu momen yang tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata,” ucap Nurdin, matanya berkaca-kaca.

Namun, perjuangan itu tidaklah mudah. Sering kali ia harus bekerja tambahan di malam hari demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Saat orang lain tidur nyenyak, Nurdin masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi ia tidak sendiri. Sang istri menjadi sandaran dan semangat yang tak tergantikan.

"Kami sadar ini bukan untuk kami, tapi untuk masa depan mereka. Setiap tetes keringat kami adalah doa untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak,” tuturnya.

Baca Juga: 19 Tahun Ditinggal Suami saat Hamil, Ibu di Kendari Bertahan Hidupi Anak dari Jualan Es Kelapa