Sebab Budi Arie dan Projo sebagai pendukung Jokowi maupun Gibran, narasi blunder tersebut malah berbeda dengan kepentingan besar Geng Solo yang berharap Prabowo-Gibran dapat bersama kembali pada Pemilu 2029 mendatang.

Akhirnya, Budi Arie seperti politisi pada umumnya, langsung meminta maaf atas pernyataannya. Meski telah meminta maaf dan meklarifikasi pernyataan tersebut, sayangnya pernyataan tersebut telah membuka ruang spekulasi politik. Dari pernyataan Budi Arie, jika ditelaah bahwa persoalannya bukan mengenai benar atau salah ucapan Budi Arie tersebut.

Tetapi momentum dan persepsi politik yang ditimbulkannya. Pernyataannya yang mengaitkan demonstrasi dengan percepatan Pemilu, ditengarai sebagai sinyal spekulasi bahkan memungkinkan kalkulasi politik menuju perubahan kekuasaan terhadap Presiden Prabowo dengan cara “diturunkan” oleh rakyatnya.

Jelas saja, pernyataan Budi Arie adalah blunder politik. Budi Arie selama ini dikenal dekat dengan Jokowi dan juga ia mantan menteri koperasi yang direshuffle oleh Prabowo pada September 2025 lalu.

Baca Juga: MUI, DPR dan Sikap Pemerintah Terhadap LGBT