Artinya, lanjut Senator asal Jawa Timur itu, akhlak dan adab menjadi bagian penting dari tercapainya welfare state. Karena akhlak dan adab telah menyatu menjadi bagian dari wajah bangsa. Termasuk menyatu dalam diri para pemegang kekuasaan dan jabatan. Sehingga negara berhasil mengambil peran penting dalam perlindungan dan pengutamaan kesejahteraan ekonomi dan sosial warga negaranya.

Baca juga: Politisi PAN Soroti Pelarangan 59 Negara Terhadap Kedatangan WNI

“Lantas bagaimana dengan Indonesia? Kita lihat saja dari dua sisi. Bagaimana generasi muda dan anak-anak kita serta bagaimana mentalitas pejabat dan para pemegang kekuasaan di negeri ini? Apakah terjadi kemerosotan moral? Jujur harus kita jawab; iya terjadi. Apalagi jika kita lihat data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, tahun 2018, tercatat 504 anak di bawah umur yang terlibat perkara pidana,” urainya.

La Nyalla juga mengungkap sejumlah survei yang dilakukan KPAI. Di mana tercatat 62,7 persen remaja SMP sudah tidak perawan. 93,7 persen pelajar SMP dan SMA pernah berciuman. Sementara 21,2 persen remaja pernah melakukan aborsi dan 97 persen remaja pernah menonton film porno.

Karena itu, tambahnya, selain pondok pesantren, IAIN sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan pentingnya akhlak dan adab, memiliki peranan penting dalam menentukan masa depan bangsa ini. Sehingga cita-cita para pendiri bangsa ini, untuk menjadikan Indonesia sebagai welfare state, dapat terwujud dengan sebenar-benarnya.