Atas inisiatif tersebut, lanjutnya, Pemkab Kolut memberikan kompensasi berupa uang kepada pemilik benda-benda bersejarah tersebut sebagai bentuk terima kasih.
"Pemberian kompensasi ini telah diatur dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, sebagai mana dijelaskan dalam UU tersebut jika ada masyarakat baik pribadi maupun komunitas yang mengembalikan barang atau benda yang diduga cagar budaya, maka pemerintah daerah wajib memberikan kompensasi dalam bentuk ganti rugi," terangnya.
Menurut pengakuan mereka, kata Kabid Kebudayaan, benda-benda tersebut ditemukan sekitar tahun 80-an sampai 90-an oleh masyarakat lokal di daerah Watunohu. Benda tersebut kemudian dibarter dengan lipa' sabbe atau sarung tenun yang dibawa para pedagang dari Sulsel.
"Pernyataan tersebut sama dengan informasi yang kami terima dari salah seorang warga Desa Kasumeeto, Kecamatan Pakue, Kolut. Menurut pengakuannya, puluhan tahun lalu ia pernah membarter empat buah guci kuno dan keris yang dia temukan di pekuburan tengkorak Kasumeeto dengan lipa' sabbe yang dibawa salah seorang pedagang. Namun sayang saat ini, benda itu sulit untuk dilacak keberadaannya," bebernya.
Baca juga: NTT Dukung Referendum Terbatas Perubahan Masa Jabatan Presiden Jokowi
