Partai Gerindra secara resmi menerima tawaran untuk bergabung dalam koalisi pemerintahan dengan memperoleh 2 jabatan kursi menteri. Dibalik pisah koalisi dengan PKS, sebenarnya Partai Gerindra jengkel, karena politik identitas sebagai strategi kampanye menyebabkan partai Gerindra dianggap ambigu sebagai partai nasionalis.

Setelah ditinggalkan Partai Gerindra, maka mitra koalisi di luar koalisi pendukung pemerintah hanya tersisa PKS, PAN, dan Partai Demokrat. Kekuatan koalisi ini tidak memiliki suara yang cukup kuat untuk melawan kekuatan pendukung pemerintah, sebab ketiga partai itu hanya berjumlah 22,82 persen.

Baca juga: Redistribusi Alami Ekonomi Saat Mudik

Realitas yang turut mengikuti dalam perjalanan beberapa bulan tahun 2021 ini, Partai Demokrat dan PAN juga mengalami konflik internal, ikon PAN selama ini Amien Rais memilih untuk mendirikan partai baru yakni Partai Umat yang baru dideklarasikan.

Sedangkan Partai Demokrat, meski berhasil lolos dari kudeta melalui pengakuan kepengurusan yang sah diakui oleh Depkumham yakni kubu dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tetapi riak konflik internal masih akan terus berlangsung.