Kenaikan pertamax juga berpotensi membuat sebagian pengguna beralih ke BBM subsidi seperti peralite. Jika perpindahan ini terjadi secara besar besaran, permintaan pertalite bisa meningkat dan menimbulkan antrean panjang atau kelangkaan di beberapa daerah. Pada akhirnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang seharusnya menjadi penerima manfaat subsidi justru bisa ikut terdampak.

Sederhananya seperti ini, sejak harga pertamax naik, SPBU banyak yang mulai kehabisan pertalite. Peralite habis karena permintaan tinggi dari masyarakat. Lama kelamaan, pertalite akan langka. Pada akhirnya, masyarakat terpaksa dan tak punya pilihan pasti akan menggunakan pertamax. Tak berhenti sampai di sini, masalahnya akan merembet pada kenaikan bahan pokok, sebab  berdampak biaya tambahan pendistribusian.

BBM itu ibarat darah dalam tubuh ekonomi. Kalau harga darahnya mahal, seluruh tubuh ikut sakit. Ongkir naik, harga sembako naik, biaya sekolah naik, biaya hidup naik. Yang paling terasa sakitnya adalah rakyat biasa yang penghasilannya tidak ikut naik setiap bulan.

Baca Juga: GGL di Ujung Sendok, Triliunan Rupiah di Ujung Tanduk

Yang jelas, kejadian ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Semua adalah hasil kebijakan sistem politik yang berjalan saaat ini. Akar masalahnya bukan hanya akibat naik turunnya harga minyak dunia. Lebih dari itu, persoalan ini menunjukan bagaimana BBM dipandang dalam paradigma kapitalistik.