"Saya membuang semua amarah dan frustrasi saya dan hanya melihat satu hal. Saya melihat harapan akan perdamaian dan cinta. Jika ada lebih banyak orang seperti itu, tak akan ada lagi yang harus diributkan," tutur Segal.

Segal kemudian bercerita bahwa ia berani melakukan operasi transplantasi pada 16 Juni lalu karena terinspirasi dari kisah kakeknya yang merupakan penyintas Holocaust.

Kakeknya pernah menasihati Segal agar hidup bermakna berdasarkan tradisi Yahudi, salah satunya tak ada yang lebih penting dari menyelamatkan nyawa.

Baca juga: Kembali Berulah, Pasukan Israel Tembak Mati Anak Palestina

Baca juga: Amerika Larang Warganya ke Indonesia, Takut COVID-19 dan Teroris