Sedikit melebar fenomena Cak Imin, bertolak belakang dengan kisah Anas Urbaningrum. Secara anatomis apa yang dialami Anas sebenarnya memiliki komplikasi dengan identifikasi yang sama. Namun Anas Urbaningrum tercampak atau tergelincir lebih karena kesalahan strateginya sendiri. Andai Anas Urbaningrum dapat lebih bersabar dan bertindak menunggu momentum yang tepat bisa jadi ceritanya akan lain.

Baca Juga: Wujudkan Pemilu Berkualitas melalui Manajemen Mitigasi Pemungutan Suara Ulang

Apa yang dilakukan Anas ketika itu ibarat burung yang sayap dan bulunya belum sepenuhnya kuat, namun memaksa terbang jauh, maka dia belum kuat menghadapi petir juga badai akhirnya jatuh. Ya, atau tidak, yang jelas Cak Imin lebih sabar dan telatan merawat konstituen. Dengan bergerilya ala santri eskalasinya justru tumbuh luar biasa.

PKB kini, dan Muhaimin sekarang adalah personifikasi yang luar biasa. PKB tubuh menjadi partai dengan soliditas dengan akar yang kuat. Begitu pun Cak Imin, saat ini dia telah menjelma menjadi politikus ulung dengan kalkulasi yang matang.

Langkah kuda PKB berkoalisi dengan Gerindra adalah trisula yang memiliki kekuatan tangguh, strategi cak Imin tersebut mampu menghadirkan dua lompatan strategis secara paralel, pertama menjadi kunci mewujudkan hattricknya, untuk PKB dan sekaligus ambisi politiknya, yakni menjadi Wakil Presiden.