Kurang lebih 20 tahun Muliono mengaku memulung. Seakan rasa sakit saat berjalan di atas bebatuan dan aspal yang panas karena terik matahari sama sekali tidak dirasakannya.
"Kalau sudah panas kadang saya mencari pepohonan di pinggir jalan untuk berteduh, sambil menunggu ada pengendara memberikan sedekah. Saya bersyukur jika sewaktu-waktu ada pengendara yang memberikan nasi kotak hingga air minum," katanya sambil mengelus dada.
Baca Juga: Perjuangan Seorang Ibu, Hidupi Anak dari Jualan Tisu dan Air Mineral
Selama menjadi seorang pemulung di Kota Kendari dirinya belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal dirinya mempunyai KTP Kota Kendari.
"Sampai saat ini saya belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal saya di sini berjuang seorang diri tanpa ada yang menemani," ungkapnya.
