Kekhawatiran orang tua terhadap anak yang merasuki diri mereka, tanpa sadar nilai sakralnya sekolah hilang. Mulailah terjadi orang tua murid seperti melonggok di kaca-kaca jendela ruang sekolah untuk mengintip proses pembelajaran.

Baca Juga: Anomali Partai Politik, Representasi Politik, dan Kursi Menteri

Tak disadari, orang tua murid mulai terasuki pribadi yang merasa mereka benar dan mereka amat mengetahui proses mendidik dan mengajar. Penilaian pun mulai hadir di pikiran orang tua murid, guru mulai menjadi pergunjingan, sehingga terjadilah penilaian-penilaian terhadap guru, akibatnya adalah perilaku arogan orang tua murid mulai hadir.

Orang tua murid seakan dizinkan layaknya konvensi di masyarakat untuk memberikan penilaian proses belajar dan proses mendidik seorang anak. didik Di sinilah, proses belajar dan mendidik, mulai terintimidasi oleh orang tua murid. Dampaknya adalah guru tidak lagi dianggap orang tua murid. Guru tidak lagi dipercaya mutlak untuk mendidik dan memberikan pengajaran terhadap anak-anak mereka.

Akhirnya Guru menderita berkali-kali lipat, seperti untuk pemenuhan kehidupannnya saja mereka harus mengelola pendapatan dari mengajar yang minim. Kemudian, mereka juga harus was-was jika salah memberikan pemahaman akan pengajaran dan mendidik anak-anak didiknya.