Di depan asrama wali kelasnya telah lebih dulu menunggu. Di tangan wali kelasnya ada pengukur suhu tubuh. Sesegera saja semua yang baru datang dari Nanjing melakukan pengecekan suhu tubuh. Hasilnya, Nadah yang juga alumni SMAN 1 Kendari itu menunjukkan 36.4 derajat celcius.
Bersama empat orang mahasiswi dari Bangladesh langsung diungsikan di ruang isolasi yang telah disiapkan pihak kampus. Tepatnya di doormitory 13. Angka keramat yang hanya dipakai oleh ambulans. Orang China percaya bahwa angka 13 membawa kesialan. Pihak sekolah menjamin selama masa karantina kebutuhan konsumsi akan ditanggung.
Baca juga: Corona Merampas Impian Gadis itu ke Negeri Sakura
Pemberitaan tentang perkembangan virus begitu masif. Ia dan empat orang temannya itu begitu ketakutan. Bagaimana tidak setiap harinya dikabarkan ada orang yang telah meninggal, bunyi sirine dari mobil ambulans tidak henti-hentinya meraung-raung menyatu dengan tangis sendu pilu.
Setiap detiknya hanyalah kecemasan. Ia menutup telinga kuat-kuat, memejam mata rapat-rapat. Tak ingin mendengar dan melihat tragedi-tragedi itu lagi. Apa boleh buat? Ingatan manusia memang kadang menyiksa. Kerap menyimpan rapi apa-apa hal atau momen yang coba kita hempaskan. Belum lagi ancaman virus yang bisa memapar kapan saja.
