Pakar thibbun nabawi Al-Hafiz Adz-Dzahabi dalam kitabnya memberikan penjelasan mengenai waktu yang disarankan untuk melakukan hubungan suami istri. Ia menekankan pentingnya memperhatikan kondisi tubuh agar aktivitas tersebut tidak berdampak buruk bagi kesehatan.
Baca Juga: Puasa Disebut Jaga Kesehatan Reproduksi hingga Tingkatkan Peluang Hamil, Begini Penjelasannya
“Hubungan badan merupakan sunnah para rasul. Sebaiknya, aktivitas ini dilakukan setelah pencernaan selesai mencerna makanan, saat suhu tubuh pasangan dalam kondisi stabil, saat perut tidak terlalu kosong dan tidak juga penuh. Namun, (apabila diperlukan) maka hubungan badan di saat perut terisi dapat dikatakan lebih kecil bahayanya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau pernah berbuka puasa dengan berhubungan badan,” tulis Al-Hafiz Adz-Dzahabi dalam kitab Thibbun Nabawi.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hubungan suami istri sebaiknya dilakukan setelah tubuh mendapatkan kembali energi dari makanan yang dikonsumsi saat berbuka. Setelah makan dan minum secukupnya, tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan dan menghasilkan energi baru. Pada fase itulah kondisi tubuh dianggap lebih stabil untuk melakukan aktivitas fisik.
Bagi sebagian orang, hubungan intim langsung setelah berbuka puasa juga bisa terjadi, terutama apabila dorongan seksual muncul secara kuat. Namun, dalam kondisi perut kosong, aktivitas tersebut berpotensi menguras energi yang belum sepenuhnya pulih setelah menjalani puasa seharian.
