Baca Juga: Kekayaan Alam Dikeruk, Rakyat Kian Terpuruk
Karya hasil penelitian Imanuela yang akrab disapa Putri (dkk) itu dibukukan dengan judul Kunang-kenang di Mulyoarjo (KKM) terbit pada Mei 2024. Dosen Bahasa Jawa Universitas Negeri Malang (UNM), Teguh Tri Wahyuni, M.A. pada pengantar karya literasi ini mengaku, teringat pada dua rangkaian ungkapan (Jawa) warisan leluhur: urip mung mampir ngombe dan mikul ndhuwur mendhem jero.
Teguh melanjutkan, ungkapan pertama mengungkapkan masyarakat sebagai sumur pengetahuan selaku pewaris sastra dan tradisi lisan yang layak ditimba. Ungkapan yang kedua, terwujud dalam bentuk narasi berbagai jasa para leluhur yang terungkap dan berbagai sisi negatif mereka yang dipendam dalam-dalam.
Bukankah untuk ngombe (minum) dalam artian menimba sebanyak-banyaknya ilmu dari masyarakat, memerlukan kerendahan hati? Memang, masih terlalu banyak mutiara kearifan yang patut diangkat dan diasah untuk kelangsungan hidup di berbagai profesi.
Gengsi-gengsian dengan alasan bahwa warisan leluhur sudah ketinggalan oleh kemajuan teknologi tinggi, justru seperti berharap burung nan terbang, sementara burung di tangan dilepaskan.
