Ia seolah ingin berpesan kepada generasi hari ini dan masa depan, pakaian yang sesungguhnya adalah kecerdasan dan akhlak mulia. Kepada para pejabat seolah ia hendak berpesan, pakaian yang dinantikan oleh rakyat adalah kinerja, hadir menjadi suluh di tengah-tengah masyarakat untuk mendengar keluh kesah dan rintihan mereka.

Dilansir dari tekape.co, pada akhir tahun 2017 ia merayakan pergantian tahun di Dusun Sulaseba. Dusun Saluseba adalah sebuah dusun terpencil karena menghubungkan jalan menuju ke Rampi.

Baca juga: Pilkades Gumanano: Cermin Berdemokrasi dari Aras Lokal

Memang beda. Di saat banyak kepala daerah di malam pergantian tahun berpesta foya dengan melecutkan kembang api ke angkasa. Seusai kilatan cahaya berwarna-warna berhamburan di katup malam, hanya potongan ingatan yang tersisa tentang itu. Sementara itu, kelaparan tetap mencengkeram perut si miskin, pengayuh becak, pemulung, serta mustadh’afin (kaum marginal) lainnya.

Tak hanya di malam tahun baru saja, ia menyambangi warga di desa-desa terpencil. Lebih mengejutkan lagi, istri dari Muhammad Fauzi ini tidak pernah menurunkan tim survei sebelum ia bermalam di desa-desa terpencil itu.