“Salah satu kekhawatiran dalam menyerang situs nuklir adalah bahwa kemunduran dapat menyebabkan Iran menyusun kembali operasi mereka dengan upaya yang lebih gigih untuk mendapatkan pencegah nuklir,” ungkap Vaez, seperti dikutip dari Aljazeera, Minggu (15/6/2025).
Serangan ini semakin memperkuat pengaruh kelompok garis keras di tubuh pemerintahan Iran. Reza H. Akbari dari Institute for War and Peace Reporting menyebutkan bahwa kalangan garis keras akan lebih dominan usai insiden ini.
Baca Juga: AS Kembali Gunakan Veto ke-49 Bela Anak Emas Israel dari Resolusi Gencatan Senjata Gaza di DK PBB
“Mereka mengatakan Iran tidak akan pernah bisa bernegosiasi dari posisi lemah dan mengalah,” kata Akbari menanggapi perubahan sikap elite penguasa Iran terhadap Barat.
Di sisi lain, serangan ini juga memperumit posisi Amerika Serikat yang tengah mencoba menghindari konflik terbuka di kawasan. Hubungan antara AS dan Iran telah memburuk sejak Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan JCPOA pada 2018, perjanjian yang sebelumnya dimediasi oleh Presiden Barack Obama.
