Mereka hanya bermodalkan karton sebagai alas untuk merebahkan tubuhnya dan mengandalkan pepohonan yang menutupi dari pandangan orang-orang yang melintas. Selain dari balik pohon, mereka juga menawarkan tempat lainnya yakni di belakang gardu PLN yang masih berada di lokasi tersebut.

“Kalau main di belakang gardu PLN lebih enak karena dekat dengan air sumur,” ujar Erna (nama samaran).  

Erna mengaku lebih suka mangkal di lokasi itu dibanding lokasi yang menyediakan bilik terpal biru. Karena main di dalam tenda biru harus bayar lagi ke yang jaga. Salah seorang pengemudi ojol yang sedang nongkrong di lokasi prostitusi Pesing-Jelambar, Hendra, membenarkan bahwa umumnya para PSK yang mangkal di lokasi itu dulunya menjalani pekerjaan yang sama di Kalijodo.

Baca Juga: Jakarta Undercover: Potret Kehidupan Malam Bisnis Prostitusi di Jakarta, Panjat Tembok Dulu Sebelum Bercinta

Sejak bermigrasi ke tempat yang sekarang, mereka terkesan lebih terbuka karena melayani tamu di tepi jalan meski hanya ditutup oleh terpal. “Kesannya tidak nyaman dan kumuh,” katanya.