Dalam konteks menuding, bolehlah bila dikatakan orang pertama tunggal adalah yang terlibat berbicara dengan orang kedua tunggal, sedangkan “dia” dan “kita” merupakan orang ketiga tunggal dan jamak yang mereka (“aku/ saya” dan “kami”) tuding.
Pemberian tanda kutip (“…”) pada kata ganti, bukan dimaksudkan itu sebagai kata asing, tapi sekadar untuk membedakan dengan kata-kata lain dalam kalimat. Pada judul sengaja penulis sengaja tulis dia bukan Dia (bukan dengan huruf besar “D”). Di negeri dengan kelompok tertentu yang gampang dan cepat “terpanggang” ini, penulis “sangat takut” dituduh telah menista agama, bila dia ditulis dengan awal huruf besar “D”.
Di tengah-tengah hidup merdeka dari penjajah bangsa asing, banyak dari anak-anak bangsa ini, hingga kini masih terlibat pertengkaran hanya karena “aku/ saya” dan “kami” untuk men-“dia”-kan saat menghadapi kejadian negatif. Bukan “kita” yang ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa, negatif atau positif sekalipun.
Baca Juga: Kepedulian dalam Pengabdian Sepanjang Masa
Paling konkret hal itu sangat terasa ketika “aku/ saya” dan “kami” mendapati praktek pelacuran, misalnya. Padahal, kebanyakan pelacuran oleh WTS (tidak bermaksud merendahkan kaum Hawa) di negeri “lemah ekonomi” ini --sangat mungkin terjadi karena persoalan sosial yang kebanyakan dari “aku/ saya” dan “kami” ikut andil langsung atau tak langsung “mendorong keberadaannya”.
