Baca Juga: Sukses Tekan Kasus DBD, Masyarakat Diimbau Dukung Inovasi Nyamuk Wolbachia di Sulawesi Tenggara

"Pasien yang belum dapat kamar itu kita titip di ruang transit IGD dulu. Ketika ada kamar yang kosong, ada pasien yang pulang baru, baru merek masuk kamar rawat inap, jadi tidak ada yang ditolak.

Hanya memang kita edukasi ke keluarga pasien untuk sementara kita di ruang transit dulu. Nanti ada kamar kosong baru dimasukkan dirawat inap," tandasnya.

Rossi Ayu (31), salah seorang pasien mengatakan, awalnya ia mengalami beberapa gejala DBD hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

“Biasanya kan kalau kita demam itu paling minum parasetamol itu sudah turun. Ini enggak, obat paracetamolnya nggak berpengaruh. Saya minum beberapa kali, turun hanya sementara. Terus nyeri sendi juga menjalar ke kaki. Panasnya itu naik-naik terus sampai gemetar menggigil, sakit kepala, jadi cepat-cepat ke UGD. Tapi karena ruangannya full jadi saya stay dulu di UGD,” ujar Rossi yang saat ini sedang berada di gedung perawatan Seruni RSUD Kota Kendari. (A)