Kecemasan berkomunikasi memiliki variabel yang memiliki jenjang rendah sampai tinggi. Dalam penerapan praktisnya, persoalan tentang kecemasan berkomunikasi ini dapat diatasi dengan perlakuan-perlakuan tertentu (treatable) kepada individu yang mengalaminya. Solusi yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi atau mengurangi kecemasan berkomunikasi dengan orang lain adalah melalui berbagai upaya individu untuk melibatkan diri secara sosial (Lewis & Slade, 1994).  

Menurut Berger, ketika kita berkomunikasi, kita membut rencana untuk mencapai tujuan kita. Kita menyusun rencana komunikasi kita dengan orang lain berdasarkan pada tujuan kita seperti halnya penggunaan informasi yang kita miliki tentang orang lain. Semakin kita merasa tidak pasti, kita menjadi semakin waspada dan kita akan semakin bergantung pada data yang tersedia bagi kita dalam situasi tersebut.

Baca Juga: Menerka Hubungan Tak Harmonis PDI-P, Luhut dan Jokowi

Pada keadaan ketidakpastian yang sangat tinggi kita menjadi semakin sadar dan berhati-hati dengan rencana yang kita lakukan. Ketika kita merasa sangat tidak pasti tentang orang lain, kita cenderung kurang yakin akan rencana kita dan membuat rencana-rencana darurat, atau cara-cara alternatif dalam merespon hal tersebut.  

Pengurangan kecemasan pada individu dari budaya yang berbeda dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman dan penguasaan bahasa. Untuk itu, strategi untuk mengurangi kecemasan para kandidat adalah menguasai bahasa lokal maka kemampuan bahasa tersebut dapat membantu kita dalam mentoleransi pada hal-hal yang bersifat ambigu.