Di Serang (Banten), misalnya. Sejak jelang akhir 2018, dengan dimotori oleh Direktur Pengamanan Objek Vital (sejak masih Kabid Humas) Polda Banten, Kombes Pol. Edy Sumardi, S.I.K., M.H., aktivitas sosial yang diberi nama “Jumat Barokah” tetap ajeg hingga kini.
Baca Juga: Wah, Potensi Korupsi IT di Pemerintahan
Kegiatan bagi-bagi bantuan makanan/ sembako serupa di Serang dan sekitarnya itu, layak ditingkatkan menjadi “kail”. Dengan begitu, masyarakat penerima bantuan tak selamanyanya menjadi “penerima ikan” saja, tetapi terpacu produktif untuk menjadi mandiri. Pada girlirannnya, mereka pula kelak mampu berbuat hal serupa kepada sesama yang lain lagi yang memang patut dientaskan.
Dengan gotong-royong sebagai sebuah sistem nilai yang mampu menggerakkan kebersamaan masyarakan, diharapkan akan terwujud rumah ibadah sebagai pusat kajian dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Bentuk konkretnya, bisa saja semacam koperasi yang diperjuangkan oleh “Mr. Honest and Clean” Bung Hatta semasa hidupnya.
Permasalahan hidup bukan cuma soal sakit dan kematian. Ramai-ramai turut berduka sembari mengeluarkan sumbangan (materi) di saat sesama sedang berduka, sungguh terpuji.
