Mengutip tulisan Okky Madasari (Jawa Pos, 18/7/2026), ia menjelaskan bahwa cara Presiden berbicara menjadi cara Menteri menjawab pertanyaan. Cara Presiden menghadapi kritik menjadi cara Birokrasi menghadapi pengawasan. Cara Presiden memperlakukan lawan menjadi cara negara memperlakukan warganya.

Baca Juga: Kepercayaan Publik dan Pemberantasan Korupsi

Ditegaskan oleh Okky bahwa yang diproduksi bukan hanya pilihan kata, melainkan hubungan antara kekuasaan dan masyarakat. Oleh sebab itu, ketika komunikasi dibangun dengan argumentasi yang rasional, ruang publik akan berkembang menjadi ruang diskusi yang sehat.

Sebaliknya, apabila komunikasi lebih banyak dipenuhi ekspresi emosional tanpa penjelasan yang memadai, masyarakat akan lebih mudah terjebak pada perdebatan yang bersifat personal daripada substansial. Bahkan, jika dicermati seolah antara Pemerintah menjadi vis a vis dengan Pengamat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM); ini menyembulkan kesan antara Pemerintah dengan Masyarakat tidak sepenuhnya berjalan harmonis.

Tampaknya memang Pemerintahan Prabowo saat ini perlu kembali merumuskan pengelolaan pemerintahannya agar menjadi lebih baik, dan juga komunikasi Presiden perlu semakin mengedepankan substansi dibandingkan sensasi. Sebab, masyarakat membutuhkan penjelasan yang utuh mengenai kebijakan, alasan di balik setiap keputusan, serta dampak yang akan dirasakan oleh publik.