Namun sayang, Indonesia kini menduduki peringkat ke 2 dunia sebagai negara yang paling cepat kehilangan hutan tropisnya. Setiap menit hutan seluas tiga lapangan sepak bola hilang ditebang, dibakar digantikan dengan kebun sawit atau lubang tambang. Hutan yang dulu  jadi rumah bagi orang utan, harimau Sumatera dan burung cendrawasih kini jadi padang gersang, air sungai mengering, udara penuh debu dan satwa-satwa yang tersisa berjalan tanpa arah mencari rumah.

Pada tahun 2001, hutan primer yang dimiliki Indonesia berjumlah 136 juta hektar, ini terbentang menutupi 83 % luas tanah Indonesia. Pada tahun 2023, hutan primer yang tersisa tinggal 88, 8?ri jumlah awal. Global Forest Watch (GFW) mencatat bahwa Indonesia telah kehilangan 10,5 juta Ha hutan primer dalam kurun waktu 2001-2023, atau setara dengan kehilangan 1 lapangan sepak bola per menit selama 23 tahun.

Baca Juga: Merawat Misi Keadaban Universitas: Marhaban UIN Sultan Qaimuddin Kendari

Jumlah hutan primer yang hilang Selma 23 tahun ini baru separuh dari angka pembukaan lahan yang diusulkan oleh Menhut, yaitu 20 juta hektar (goodstats/12/01/2025).

Meskipun upaya pembangunan berkelanjutan didengungkan, fakta di lapangan menunjukkan terjadinya alih fungsi lahan yang masif, hutan lindung dan kawasan resapan air seringkali dikonversi menjadi perkebunan, pertambangan, atau permukiman tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan.