"Setiap pagi atau sore saya harus bergegas sebelum mobil pengangkut sampah tiba, agar saya bisa memilah barang-barang yang masih bisa dijual," tuturnya.

Dengan gerobak kayu yang selalu menemaninya, Rijal berjalan kaki untuk mengumpulkan sampah bekas. Setibanya di rumah, ia menimbang hasil mulungannya. Namun, tidak jarang ia pulang dengan tangan hampa karena banyak pemulung lain yang lebih dulu mengambil barang-barang yang ada.

Baca Juga: Kisah Hidup Petugas Sapu Jalanan di Kendari

Matahari terik menjadi saksi perjuangannya, yang sering kali memaksa Rijal untuk mengusap keringat yang membasahi wajahnya. "Mau diapa, sudah tua, mau kerja yang lain tidak bisa. Sedikit demi sedikit ini bisa memenuhi kebutuhan," ujarnya.

Hikma, salah satu warga yang melihat Rijal, merasa prihatin dengan kondisi yang dialaminya. Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan warganya yang kurang mampu.