Dia sudah terbiasa, malah mulai ketagihan mengajar anak autis. Kerap suntuk untuk menyiapkan materi sesempurna mungkin, ternyata siswanya tidak bisa hadir karena belum tidur atau hal lain. Galib, tangannya berbarut akibat dicakar saat mengajar karena anak didiknya sedang tantrum.

Ia mengampuh terapi wicara pada anak autis. Membimbing anak didiknya untuk bisa berbicara bukanlah hal remeh.

Membimbing anak autis untuk sekadar melafalkan huruf A, I, U, E, atau O butuh waktu lama. Tidak bisa jika hanya ambil ringkas. Tidak bisa hanya menitip buku kepada siswa untuk dicatat, lalu gurunya menyusup atau mengendap, merabot hak siswa untuk mendapatkan ilmu.

Sekadar untuk melafalkan huruf 'a' saja harus ulang-aling. Sudah berkali-kali ia coba dengan berbagai macam ekspresi ala badut, dan ternyata hanya dibalas plonga-plongo oleh anak didiknya. Semua itu terbalas saat anak didiknya bisa mengeja huruf 'a' saja.

Baca juga: Kisah Apriyani Rahayu Jualan Sayur di Konawe Hingga Jadi Pemain Bulutangkis Kelas Dunia