Baca juga: Tertunda 6 Bulan, Abdurrahman Saleh Terima SK Ketua PODSI Sultra

"Bila mengingat masa sulit, hati saya sangat sedih. Dulu kami harus rela  kehujanan karena tidak ada lapak yang kami miliki. Kadang tidak ada penghasilan sama sekali dalam sehari bila kondisi hujan karena sepi pembeli," ujarnya.

Di awal berjualan kasuami, Deka juga pernah berjualan di Toronipa. Perjalanan kesana biasanya ditempuh sekitar satu jam lebih. Bila hujan, dia terpaksa harus mengikhlaskan kasuaminya tak jadi dijual, dan hanya dibagikan kepada tetangga.

“Di bulan Ramadan, omzet kami menurun drastis dari biasanya. Yang biasanya kami membuat 100 kasoami, tapi sekarang, mengingat kondisi sebagian orang masih menjalankan puasa, maka kami kurangi jadi 50-70 per hari,” ujarnya lagi.  

Menurut Deka, di Kendari sangat banyak penikmat kasuami. Karena itulah, dia bisa tetap bertahan meski dengan penghasilan pas-pasan.