Keriuhan pada PAN juga lebih berisik. Zulkifli Hasan dihadapi dengan berbagai persoalan yang lebih dahsyat. Seperti, konflik internal yang menghasilkan kehadiran partai baru yakni Partai Ummat. Partai Ummat berdiri dengan dampaknya PAN bukan saja kehilangan Amin Rais sebagai figur ikon partai selama ini, tetapi juga ditinggalkan oleh beberapa elit PAN disertai anggota-anggotanya dari tingkat pusat hingga daerah-daerah.  

Baca Juga: Pergeseran Peran Rekrutmen Politik

Zulkifli Hasan juga dibebani oleh keputusan mendukung pemerintah, tetapi kala itu Presiden Joko Widodo masih belum memberikan kompensasi dari dukungan PAN berupa kursi menteri. Waktu menunggu kepastian PAN memperoleh kursi menteri, menghasilkan riak-riak keinginan pengurus di tingkat daerah untuk PAN segera beralih kembali menjadi oposisi dengan bergabung bersama PKS dan Partai Demokrat, disertai dengan keputusan mendukung Anies Baswedan sebagai calon presiden pada Pilpres 2024 nanti.

PPP yang dipimpin Suharso Manoarfa juga setali tiga uang dengan Partai Golkar dan PAN. PPP dengan kepemimpinan Suharso dianggap tidak bergairah, tidak punya semangat menghadapi Pemilu Serentak ini. Bahkan, sikap tenang PPP tidak melakukan “dansa” politik dalam soal mendukung sosok calon presiden dikhawatirkan akan berefek nyata kepada PPP tidak lolos parliamentary threshold, sebagai partai yang dapat mengantarkan kadernya sebagai legislator dengan berkantor di Senayan.

Berdasarkan argumentasi ini, penulis meyakini, pembentukan KIB hanya karena adanya kepentingan pribadi masing-masing ketua umum dari ketiga partai tersebut semata, yang akhirnya menyatukan dan menghasilkan kesepakatan bersama membentuk KIB.