Situasi ini memperbesar risiko ekonomi bagi ibu dan anak, terutama jika perempuan tidak memiliki pendapatan tetap.

Baca Juga: Fenomena Joget Sadbor Bisa Hasilkan Rp 700 Ribu per Hari, Bantu Desa Bangun Jalan

Dari aspek kesehatan, 'kumpul kebo' juga memiliki dampak negatif terhadap kondisi mental dan emosional pasangan. Berdasarkan data PK21, sekitar 69,1 persen pasangan kohabitasi mengalami konflik yang berpotensi mengganggu kesejahteraan psikologis.

Beberapa bentuk konflik tersebut berupa tegur sapa yang menurun, pisah ranjang, bahkan hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Selain itu, anak-anak yang lahir dari hubungan kohabitasi juga rentan mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan. Status mereka yang dianggap "anak haram" oleh sebagian masyarakat bisa berdampak pada kesehatan emosional mereka.