“Saya bersyukur diberi cobaan lebih awal, ibu meninggal 2 tahun itu cukup memberatkan. Kemudian ditinggal ayah pada saat masuk perguruan tinggi itu luar biasa. Kemalangan itulah yang membuat saya harus terjaga lebih awal. Itulah yang membuat saya merasa harus melakukan sesuatu, tertantang. Jadi saya lebih mengerti bagaimana cara hidup sendiri daripada merengek kepada siapapun, termasuk orang tua. Itulah nilai plus yang banyak orang tidak miliki sehingga kematangan demi kematangan gampang kita raih,” jelas Hugua.
Menemukan Gagasan Surgaisme
Kematangan emosional, koneksi luas, dan cakrawala pemikiran yang matang sejak awal membawa Hugua pada kerja-kerja sosial atau dunia LSM. Di dunia LSM, dia benar-benar mengerti tentang realitas kehidupan sehari-hari masyarakat biasa yang sesungguhnya. Ada ketidakadilan struktural yang dialami oleh masyarakat biasa sehingga muncul kegelisahan dalam dirinya.
Baca Juga: 5 Fakta Pembangunan Patung Oputa Yii Koo, Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Tenggara
Menurutnya, ada yang harus dikoreksi dari gaya pendekatan dan cara pandang pemerintah kepada masyarakat. Menggunakan cara pandang teknokratis dan berpikir normatif justru akan mengabaikan sisi manusiawi dan enggan mengakomodir kepentingan partisipatif. Artinya, esensi utama melayani masyarakat jadi nomor sekian setelah terpenuhi syahwat kekuasaan dan hal-hal normatif lainnya.
