Biasanya akibat yang terjadi adalah jumlah uang yang ke luar lebih banyak daripada jumlah uang yang masuk sebagaimana cash flow (arus kas) dalam perusahaan. Sebab untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup terpaksa membeli komoditi dari daerah atau negara lain. Nah, akhirnya yang kaya adalah daerah atau wilayah lain, sementara rakyat di daerah sendiri tetap miskin atau tertinggal.
Baca juga: COVID-19 dan Isi Perut
Jadi, satu di antara sekian cara membangun daerah adalah membangun atau mengembangkan daerah berdasarkan potensi yang dimilikinya sendiri. Dari sini dapat dipastikan secara langsung dampaknya bisa dinikmati pula oleh masyarakat bawah.
Guna mengantisipasi penurunan produktivitas yang pada gilirannya setiap negara atau daerah lebih fokus memenuhi kebutuhannya sendiri, maka mau atau tidak komoditi lokal ini harus diprioritaskan. Hal ini dilakukan untuk menutupi kekurangan khususnya bahan pokok di pasar lokal karena pembatasan kegiatan akibat COVID-19.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Merdeka.com, 2020) pernah mengingatkan bahwa akan terjadi penurunan aktivitas ekspor-impor karena adanya pembatasan perdagangan dari berbagai negara. Pembatasan ini dilakukan untuk memitigasi penyebaran wabah virus corona ini.
