Baca Juga: Ditpolair Polda Sulawesi Tenggara Gagalkan Pengangkutan Kayu Ilegal di Perairan Buton Utara
"Ini kan aneh karena hanya jati ukuran besar yang hilang, tapi trembesi masih utuh di depan gerbang permandian Matakidi," ungkapnya.
Selanjutnya, salah satu konten kreator bertema lingkungan, Asma, mengaku saat sore di hari yang sama tepatnya 31 Januari 2024 lalu, ia mengunjungi tempat wisata alam Matakidi untuk rekreasi. Ia melihat langsung pohon jati sudah direbahkan dengan jumlah lima pohon jati dan satu pohon trembesi.
Kemudian, ia mengaku tidak sengaja bertemu dengan salah satu petugas kehutanan bernama La Ode Pombara. Asma menilai bahwa pohon yang direbahkan di jalan bagian sisi kanan yang memiliki sertifikasi benih nomor satu dan tiga, jauh dari jalan dan postur jati lurus tak menjulang ke jalan atau menyerempet kabel listrik.
Sehingga menurutnya, pohon jati itu tidak membahayakan masyarakat. Karena itu, dia mempertanyakan motif dari penebangan pohon jati yang posturnya tegak lurus, padahal pohon itu memiliki sertifikasi benih dan tak lain merupakan sumber daya mata air.
