Publik pun dibuat semakin heran, antara narasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah bahwa anggaran MBG itu didapatkan dari efisiensi yang dilakukan pemerintah. Ternyata, malah beberapa hari ini terbongkar bahwa anggaran MBG telah mengambil jatah anggaran dunia pendidikan sebesar Rp 223,5 triliun dari anggaran pendidikan sebesar Rp 769 triliun.

Baca Juga: KPK, Jokowi, dan Kemunduran Demokrasi

Kontradiksi terjadi disebabkan dunia pendidikan Indonesia yang masih merana, tetapi pemerintah hanya berfokus kepada program MBG. Seolah dengan pemberian asupan  makanan, maka anak Indonesia sudah mendapatkan pendidikan terbaik.

Memang dunia pendidikan di negeri ini, telah adanya wajib belajar 9 tahun gratis, hanya saja tidak semua sekolah menerapkan hal tersebut, ditambah pula pendapatan para guru masih minim untuk dikatakan mencukupi di negeri ini, sekolah gratis juga tidak seluruh kebutuhan sekolahnya ikut gratis, bahkan banyak fakta menyeruak di publik akan gedung-gedung sekolah yang mencemaskan untuk proses belajar dan mengajar.  

Jika dicermati kritik publik ini ingin menyampaikan kepada Pemerintah bahwa adanya kondisi tidak baik-baik saja di dunia pendidikan negeri ini. Semestinya pemerintah juga fokus terhadap proses belajar dan mengajar, tidak sekadar memberikan asupan gizi bagi  siswa. Sebab persoalan pendidikan di Indonesia membutuhkan Pemerintah juga memprioritaskannya.