Dahulu kala, tradisi ini dilakukan saat dua kerajaan melakukan peperangan. Untuk menyucikan semua dosa dan juga dendam, raja melakukan upacara Mosehe Wonua ini. Dalam upacara yang dilakukan ratusan tahun lalu ini, Raja Tolaki juga menjodohkan anaknya sehingga permusuhan akhirnya reda. Sejak Mosehe Wonua dilakukan pertama kali, tradisi ini jadi rutin dilakukan untuk menolak bala dan juga mara bahaya.

Baca juga: Tradisi Adat Kawi'a Masyarakat Suku Moronene

Dalam bahasa Tolaki, Mosehe memiliki arti melakukan sesuatu yang suci. Berangkat dari sini, Mosehe Wonua bertransformasi menjadi sebuah ritual yang diadakan secara rutin untuk menolak bala dan menyucikan negeri dari hal-hal yang merugikan semua orang yang ada di dalam kawasan kerajaan.

Setiap tahun, penduduk suku Tolaki akan mengadakan tradisi yang sangat sakral ini. Bagi mereka, melakukan Mosehe Wonua tidak hanya meminta keberkahan saja. Mereka juga melestarikan tradisi nenek moyang yang akan sangat sayang jika sampai hilang dan akhirnya tidak bisa dilakukan lagi. Apalagi tradisi ini berasal dari kerajaan masa lalu dan telah berusia ratusan tahun.

Dari abad ke-13 hingga abad ke-17 awal, tradisi ini dilakukan dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Seiring dengan berjalannya waktu, terutama saat Islam masuk ke nusantara dan menyebarkan ajaran Islam di kawasan kerajaan Konawe, unsur islami juga dimasukkan ke dalam ritual Mosehe Wonua.