Sayangnya, peradaban digital hari ini terlalu mahir dalam Isra, tetapi gagap dalam Miraj. Kita tahu cara terhubung ke seluruh dunia, tetapi sering lupa bagaimana terhubung dengan Yang Maha Dalam.

Baca Juga: Ketika Hutan Menjadi Korban Pembangunan Berkelanjutan

Era digital menjanjikan kedekatan, namun justru melahirkan keterasingan. Media sosial memproduksi kehadiran semu: ramai komentar, sepi makna. Manusia sibuk membangun citra, tetapi rapuh dalam batin.

Dalam konteks inilah Isra Miraj mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang bergerak ke samping, melainkan juga tentang naik ke atas menemukan orientasi transenden yang memberi arah pada seluruh aktivitas duniawi.

Hadiah utama Isra Miraj adalah shalat. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan latihan kesadaran vertikal. Shalat memaksa manusia berhenti dari arus distraksi, menanggalkan ego, dan menghadapkan diri pada Tuhan.