Di tengah budaya scrolling tanpa henti, shalat adalah jeda sakral; di tengah dunia real time, shalat adalah pengingat akan Yang Abadi. Ia mengajarkan fokus, ketundukan, dan kehadiran penuh nilai-nilai yang justru semakin langka di era digital.
Namun, Miraj Nabi Muhammad tidak berakhir di langit. Ia kembali ke bumi. Ini pesan penting: spiritualitas sejati tidak mengasingkan diri dari dunia, tetapi memurnikan cara berada di dalamnya.
Kesadaran vertikal harus melahirkan tanggung jawab horizontal. Dalam konteks digital, ini berarti etika bermedia, kejujuran informasi, empati dalam perbedaan, dan keberanian melawan hoaks serta ujaran kebencian. Tanpa itu, spiritualitas hanya menjadi kosmetik, bukan transformasi.
Baca Juga: Merawat Misi Keadaban Universitas: Marhaban UIN Sultan Qaimuddin Kendari
Isra Miraj juga menjadi kritik halus atas peradaban yang mengukur kemajuan semata dengan kecepatan dan produktivitas. Nabi naik bukan untuk melarikan diri dari realitas sosial, tetapi untuk kembali dengan beban amanah yang lebih berat. Artinya, kedekatan dengan Tuhan selalu berbanding lurus dengan kepedulian pada sesama. Di era digital, semakin tinggi klaim religius seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya dalam berinteraksi.
