Baca Juga: Political Block Ala Nasdem

Hanya saja, Ibu Megawati bijaksana, elektabilitas Jokowi tinggi artinya ia diharapkan oleh rakyat, oleh karena itu ia ikhlas ketika harus mengecewakan anaknya Puan Maharani. Megawati artinya mau mendengar masukan dari salah satunya JK. Hubungan JK dan Megawati begitu akrab, selain karena JK pernah bekerja sama dengan Megawati di Pemerintahan, dan jangan lupakan pula bahwa Megawati tidak kecewa JK disandingkan sebagai calon wakil presiden (cawapres) oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2004 kala itu.

Dengan pengambil keputusan tunggal di PDIP adalah Megawati selaku Ketua Umum PDIP, oleh sebab itu pula Jokowi diajukan sebagai capres dan JK juga yang disandingkan menemani Jokowi sebagai cawapres. Sejarah ini, juga menjelaskan Megawati rela “menyakiti” dua orang sekaligus, yakni Puan Maharani dan Prabowo Subianto. Khusus Prabowo karena Megawati dinilai melanggar Perjanjian Batu Tulis, yang semestinya dinarasikan akan mendukung Prabowo sebagai capres.

Ini juga menunjukkan sebuah peristiwa, Jokowi tidak sekadar dukungan rakyat yang membuat dirinya bisa diusung sebagai capres dan memenangkan Pilpres 2014 lalu. Tetapi adanya komunikasi elite, salah satunya antara JK dan Megawati. Sejarah dari sirkulasi elite ini dibangun antara kelompok-kelompok elite yang saling bersinergi agar terjadinya regenerasi.

Regenerasi ini dilakukan dengan hadirnya wajah baru dari tokoh yang dinilai berhasil di daerah naik untuk kancah politik nasional, seperti yang terjadi dengan Jokowi dari wali kota Solo, menjadi Gubernur DKI Jakarta, lalu diangkat dan diajukan sebagai capres. Wajar, ketika itu kehadiran Jokowi sebagai capres di periode pertama, dinilai sebagai kemajuan berdemokrasi di Indonesia.