Pemerintah sendiri memandang keakraban tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Sementara, posisi duduk Prabowo di tengah atau diapit oleh Jokowi dan Gibran juga dikaitkan dengan penghormatan kepada mantan presiden Jokowi. Saat itu, hanya Jokowi yang hadir dari jabatan mantan presiden.

Namun, politik tidak cukup dibaca dari sebuah peristiwa kebersamaan dan foto tersebut, misalnya. Dalam perspektif komunikasi politik, visual memang mempunyai kekuatan membentuk persepsi publik. Meski begitu, terlalu cepat dan tidaklah otomatis keakraban Jokowi-Prabowo-Gibran menjadi bukti bahwa konfigurasi politik Pilpres 2029 telah terbentuk.

Baca Juga: MUI, DPR dan Sikap Pemerintah Terhadap LGBT

Keakraban Prabowo, Jokowi, dan Gibran lebih tepat dimaknai sebagai simbol stabilitas dan kesinambungan hubungan politik daripada sebagai deklarasi bahwa duet Prabowo-Gibran pasti akan dilanjutkan untuk periode kedua.  

Jika dimaknai sebagai sinyal politik 2029, Publik justru dapat terjebak pada politik simbolik.